FILSAFAT PRIBADI TENTANG MENGAJAR

Tugas Filsafat pendidikan

“FILSAFAT PRIBADI TENTANG MENGAJAR”

Dosen pembimbing : Bana Kartasasmita, PH. D

Nama Mahasiswa : Rahmy Zulmaulida

NIM : 1008835

Kelas : 1 D



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG - 2010

Saya tidak dapat menjelaskan detil kejadian demi kejadian yang beruntun untuk melangkah sampai saat ini saya menjadi pengajar, mungkin tak beda dengan pengajar yang lain, ketika ditanya “mengapa saya jadi pengajar?”, ada yang mungkin menjawab: “sudah takdirnya!”, “memang dilahirkan menjadi seorang guru”, atau “guru yang terlahir karena langkah”. Maka saya akan menjawab saya menjadi guru yang terlahir karena langkah, dan langkah itu yang meyakinkan saya bahwa itu adalah langkah terbaik yang diberikan Allah kepada saya.

Fast forward ke tahun 2006

Bagi seorang siswa SMA yang duduk di bangku kelas 3 merupakan saat-saat yang mendilemakan bagi mereka termasuk saya, bagaimana tidak? saya terus dihadapkan pada pertanyaan “apa saya lulus UN nanti?”, ”mau melanjutkan kemana?”, “apa ada biaya untuk melanjutkan?”. Pertanyaan ini yang masih saya ingat sewaktu saya ingin memutuskan langkah tersebut. semenjak menjadi pasukan pengibar bendera pusaka minat yang saya suka ialah bidang pemerintahan dan kemiliteran. Padahal saya masih ingat kalau saya masih berjenis kelamin perempuan. Lalu saya mendiskusikan keinginan saya untuk melanjutkan tes AKPOL dan STPDN kepada kedua orang tua saya, Alhamdulillah respon dari ayah bunda setuju untuk STPDN dan tidak untuk AKPOL. Saya pun sangat gembira dengan dukungan orang tua saya. Namun suatu hari sekolah mengumumkan adanya ujian Seleksi Masuk Universitas (USMU) setara dengan PMDK. Pihak sekolah dan orang tua memberi arahan dan dukungan kepada saya, walau terlihat tidak konsisten bunda yang berprofesi sebagai kepala sekolah salah satu SDN di kota kami juga berharap saya mengikutinya “kita mencoba kesempatan yang ada, mana yang lulus itulah yang terbaik”. Sayapun mulai di beri arahan oleh guru serta orang tua dan akhirnya saya menjatuhkan pilihan saya kepada FKIP di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Seiring berjalan waktu dan mengikuti tahap demi tahap, ternyata saya gugur di ujian masuk STPDN dan lulus di FKIP sampai saat ini saya telah memiliki gelar sarjana tersebut.

Awalnya sangat sulit untuk memulai belajar untuk menjadi pengajar, tapi entah mengapa tergerak dari seorang siswa yang mengikuti les tambahan dirumahnya setiap hari bersama saya. Ihsan namanya, dia anak yang pintar dan cerdas. Hanya saja dia selalu belajar sambil bermain bola dalam rumahnya. Awalnya saya sangat geram karena dia sulit sekali untuk ditegur, tapi dari itu saya belajar bahwa anak perlu strategi khusus yaitu belajar sambil bermain. Ternyata teknik-teknik ini pun membuat saya semakin tertarik dalam dunia yang saya tekuni. Hingga saya berkomitmen untuk tetap melanjutkan tugas mulia ini seperti kata-kata indah ini: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim)

Belajar dari pengalaman menjadi seorang pelajar adalah merupakan tonggak ukur bagi saya saat ini. Mengapa? Saya ingat jelas ketika saya duduk di bangku kelas 1 SMA saya begitu menyukai pelajaran matematika namun sewaktu kelas 2 malah sebaliknya. Efek yang saya rasakan adalah bahwa ketika saya kelas 1, guru yang mengajarkan matematika begitu menyenangkan sehingga membuat saya dan teman-teman ingin terus belajar. Tapi ketika kelas 2 kami hanya diajarkan CBSA (Catat Buku Sampai Habis) untuk pelajaran matematika. Begitu membosankan yang saya rasakan. Sampai akhirnya saya memilih matematika sebagai bidang yang ingin saya tekuni untuk di wariskan kepada siswa-siswa saya, dengan tujuan siswa yang saya ajarkan dapat berpikir kreatif dan berkompeten sebagai dasar ilmu-ilmu yang lain.

Pengajaran matematika yang efektif membutuhkan pemahaman tentang apa yang siswa ketahui dan perlukan untuk belajar dan kemudian memberikan tantangan dan dorongan kepada siswa supaya belajar dengan baik. Siswa mempelajari matematika melalui proses pengalaman yang diberikan guru. Jadi, hasil pembelajaran dan pemahaman siswa tentang matematika, kemampuan mereka menggunakan matematika dalam menyelesaikan masalah, dan kepercayaan dirinya dalam mempelajari matematika, semuanya dibentuk oleh pengajaran yang mereka terima di sekolah dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengajar menurut pengertian modern yaitu aktivitas guru dalam mengorganisasikan lingkungan dan mendekatkannya kepada anak didik sehingga terjadi proses belajar (Nasution, 1935:5 dalam http://raflengerungan.wordpress.com/korupsi-dan-pendidikan/pengertian-mengajar-didaktik/diakses 9 november 2010). Merujuk dari pengertian mengajar di atas, maka siswa melakukan kegiatan belajar untuk mendapatkan tingkah laku baru sedangkan tindakan guru ialah mengajar, yakni mengupayakan anak didik belajar. Belajar di alami oleh anak didik secara individu. Belajar merupakan kegiatan mental yang terjadi karena adanya pengalaman dari siswa. (Ratumanan dalam Johar, 2006:18) mengatakan belajar dapat didefenisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relative tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman. Pendekatan mengajar yang saya gunakan sering melibatkan aktivitas saya dan siswa. Hal ini bagi saya merupakan suatu ciri pribadi saya yang tidak bisa duduk di tempat mendengar dan memperhatikan siswa terus bengong di kelas. Banyak pendekatan, model serta media yang kita tampilkan yang merujuk pada aktivitas guru dan siswa.

Dengan pengalaman saya yang masih sedikit, tidak mengurungkan niat saya untuk mengajarkan matematika semenarik mungkin kepada siswa. Dengan perkembangan keilmuan dan pengajaran matematika saya dapat mengkombinasikan animasi dengan bantuan komputer dan bahan ajar saya guna mengajak siswa untuk dapat terus mengikuti serta memahami yang akan saya ajarkan kepada mereka. Saya merasakan bahwa hubungan guru dan murid tidak dapat terlepaskan. Saya tidak akan dapat melaksanakan tugas saya nanti tanpa kehadiran siswa. Karena kehidupan manusia akan selalu diiringi dengan proses interaksi dan komunikasi yang merupakan kodrat manusia sebagai mahkluk sosial.

saya berharap suatu saat siswa yang saya didik dapat tumbuh mengembangkan segala pengetahuan yang bermakna, ketrampilan yang memusat pada kreativitas serta sikap santun dan menghargai sesama manusia. Karena saya tau bahwa semua siswa saya adalah siswa hebat yang Allah titipkan kepada kita semua, hanya saja tugas saya adalah memaksimalkan mereka hingga lebih berkompetensi dalam segala hal, baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran matematika yang dilaksanakan di kelas hendaknya memberikan kepada siswa situasi masalah yang dapat mereka bayangkan atau miliki hubungan dengan dunia nyata. Nyata yang dimaksudkan adalah selain dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, juga dapat dibayangkan (nyata dalam pikiran) siswa. Sehingga proses pembelajaran dapat memberi kesempatan kepada siswa mengkonstruksi pemahamannya tentang matematika. Hal ini diharapkan dapat mengaktifkan siswa, melatih siswa berlaku demokratis, membuat kelas menyenangkan, dan memacu guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pemahaman yang telah dimiliki siswa pada pembelajaran sebelumnya dapat digunakan untuk memudahkan siswa dalam membangun pemahamannya untuk materi berikutnya.

Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya bahwa hubungan guru dan siswa tidak terlepas kaitannya dengan unsur-unsur manusiawi. Hubungan saya sebagai guru dengan siswa diharapkan sebagai proses motivasi untuk siswa. Maksudnya bagaimana saya mampu memberikan dan mengembangkan motivasi dan penguatan kepada siswa sebagai subjek didik agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal. Suasana belajar yang tidak menyenangkan bagi siswa akan merusak kegiatan pembelajaran dan akan menjadi kendala pencapain tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien seperti (Johar, 2006:19) mengatakan hubungan guru dan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran akan terlihat bagaimana guru merekayasa pembelajaran.

(Johar, 2006:183) Penialain adalah suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan. Dengan kata lain penilaian yang saya lakukan bertujuan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran yang saya sampaikan kepada siswa sudah dikuasai atau belum dan apakah kegiatan pengajaran yang saya laksanakan sesuai dengan yang diharapkan. Dasar-dasar yang saya gunakan untuk menilai prestasi belajar mereka bisa dalam kemampuan verbal atau pemecahan masalah. Hasil dari penilaian bisa saya jadikan tolak ukur keberhasilan dari pengajaran yang saya lakukan.

Mengacu pada filsafat pendidikan ekstensialisme yaitu ”memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu yang menekankan pilihan kreatif, subjektif pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia dan realitas.” Dan dilanjutkan dengan filsafat pendidikan progresivisme bahwa ”pendidikan harus terpusat pada anak bukan pada guru atau pelajaran.” Mempunyai hubungan yang sangat erat antara filsafat saya mengajar dengan kegiatan di kelas. Mencakup pada kemampuan saya menyampaikan materi dan memberikan motivasi belajar serta strategi-strategi yang kreatif tanpa harus melupakan kebutuhan anak. Artinya lebih memfokuskan diri pada pemahaman siswa dalam belajar.

Mengikuti HR. Muslim hendaknya setiap pekerjaan kita niatkan karena Allah, karena hal itu dapat memunculkan sikap iklas untuk kita khususnya saya sendiri. Akan lebih baik lagi jika kita bisa memilih pekerjaan yang nantinya akan menjadi saluran yang mengalirnya amal setelah kita meninggal. Setelah membaca ini saya menjadi lebih yakin dan mantap akan pekerjaan yang saya tekuni sekarang menjadi pengajar.

Selama proses belajar mengajar, pendekatan mengajar saya berubah ketika awal tahun pembelajaran berlangsung, dimana saya harus mengenal terlebih dahulu karakteristik kelas dan siswa tersebut kemudian melaksanakan pendekatan yang lebih tepat. Keefektifitasan dan interaksi pengajaran saya di kelas saya peroleh dari angket yang saya berikan kepada siswa, teman sejawat maupun dari hasil belajar siswa.

Sasaran yang saya tetapkan sebagai pengajar mengacu pada filsafat pendidikan progresivisme yaitu terpusat pada siswa. Agar mencapai tujuan pembelajaran yang sangat diharapkan oleh semua individu secaara umum dan saya secara khusus. Semoga ilmu dan pengetahuan saya terus bermanfaat untuk semua yang menerima dan terus menjadi amalan bagi saya.

0 comments:

Poskan Komentar

terima kasih telah mengunjungi blog saya
mohon sarannya