Contextual Teaching and Learning with REACT Strategy

1. Pengertian CTL dan Pengembangannya

Apakah Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual? Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Selain itu juga memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan pengetahuan yang diperoleh dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat dan sebagai tenaga kerja nantinya (US Department of Education and the National School-to-Work Office, 2001).


Saat ini banyak sekolah di Amerika Serikat yang mengadopsi prinsip-prinsip CTL. Sebenarnya konsep pembelajaran kontekstual bukan konsep baru. Konsep ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1916 oleh John Dewey, yang mengetengahkan kurikulum dan metodologi pengajaran sangat erat hubungannya dengan minat dan pengalaman siswa. Proses belajar akan sangat efektif bila pengetahuan baru diberikan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya dan ada hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya (pengalaman nyata). Selanjutnya diikuti oleh Katz (1981) dan Howey & Zipher (1989). Ketiga pakar terakhir ini menyatakan bahwa program pembelajaran bukanlah sekedar deretan satuan pelajaran. Agar pembelajaran menjadi efektif, guru harus menjelaskan dan mempunyai pandangan yang sama tentang beberapa konsep dasar seperti peran guru, hakikat pengajaran dan pembelajaran, serta misi sekolah dalam masyarakat. Apabila guru menyepakati bahwa ketiga konsep tersebut bermuara pada Contextual Teaching and Learning, barulah Contextual Teaching and Learning akan berhasil baik.

Tujuh Komponen CTL

1) KONSTRUKTIVISME (CONSTRUKTIVISM)

Konstruktivisme (constructivisvism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

· Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasarkan pengetahuan awal.

· Pembelelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.

2) MENEMUKAN (INQUIRY)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

· Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman

· Siswa belajar menggunakan ketrampilan berpikir kritis

Siklus inkuiri :

a. Obsevasi (Observation)

b. Bertanya (questioning)

c. Mengajukan dugaan (Hyphotesis)

d. Pengumpulan data (Data gathering)

e. Penyimpulan (Conclussion)

3) BERTANYA (QUESTIONING)

· Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa

· Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry

Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :

a) menggali informasi, baik administrasi maupun akademis

b) mengecek pemahaman siswa

c) membangkitkan respon kepada siswa

d) mengetahui sejauh mana keinginantahuan siswa

e) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

f) menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

g) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa

h) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa

4) MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)

Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar meraut pensil dengan peraut elektronik, ia bertanya kepada temannya “Bagaimana caranya? tolong bantu aku!” Lalu temannya yang sudah biasa, menunjukkan cara mengoperasikan alat itu. Maka, dua orang anak itu sudah membentuk masyarakat belajar (learning community).

· Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar

· Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri

· Tukar pengalaman dan berbagai ide

5) PEMODELAN (MODELLING)

Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”

Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberikan contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa “contoh” tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai “standar” kompetensi yang harus dicapainya.

· Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar

· Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya

6) REFLEKSI (REFLECTION)

Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

· Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari

· Mencatat apa yang telah dipelajari

· Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok

7) PENILAIAN YANG SEBENARNYA (AUTHENTIC ASSESSMENT)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar.

· Mengukur pengetahuan dan ketrampilan siswa

· Penilaian produk

· Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual

2. Pendekatan Belajar Kontekstual

Belajar kontekstual adalah suatu konsep yang telah terbuktikan yang memasukkan banyak sekali penelitian terkini dalam sains kognitif. Konsep ini juga merupakan suatu reaksi terhadap teori-teori yang mendasar bagi para behavioris yang telah mendominasi dunia pendidikan di Amerika Serikat selama beberapa dekade. Pendekatan kontekstual memandang belajar sebagai proses yang bersifat kompleks dan multi-segi yang jauh melampaui metodologi-metodologi stimulus-dan-respon yang berorientasi drill.

Berdasarkan teori belajar kontekstual, belajar terjadi hanya bila para siswa (pelajar) memproses informasi baru atau pengetahuan dalam suatu cara sedemikian hingga informasi baru atau pengetahuan itu bermakna (dipahami) bagi mereka dalam kerangka-kerangka acuan mereka sendiri (alam-alam "dalam" dari ingatan, pengalaman, dan respon mereka sendiri). Pendekatan belajar mengajar ini berasumsi bahwa pikiran secara alamiah mencari makna dalam konteks-maksudnya, sehubungan dengan lingkungan saat ini dari seseorang dan bahwa pikiran melakukannya dengan mencari hubungan-hubungan yang bermakna dan ternyata berguna.

Berlandaskan pemahaman itu, teori belajar kontekstual berfokus pada aspek yang banyak dari sebarang lingkungan belajar, baik itu adalah sebuah ruang kelas, Iaboratorium, lab komputer, situs kerja, maupun sebuah ladang gandum. Teori ini mendorong para edukator untuk memilih dan/atau merancang lingkungan-lingkungan belajar yang memasukkan sebanyak mungkin bentuk pengalaman yang berbeda-sosial, kultural, fisik, dan psikologis dalam bekerja menuju hasil-hasil belajar yang diinginkan.

A. Apakah Anda Mengajarkan Matematika secara Kontekstual?

Selesaikan uji-diri di bawah ini dan renungkan.

Standar-standar berikut hadir dalam kadar berlainan dalam hampir semua teks. Disisi lain, pembelajaran kontekstual kaya akan kesepuluh standar tersebut

1. Apakah konsep-konsep baru disajikan dalam situasi-situasi dan pengalaman-pengalaman kehidupan nyata (di luar ruang kelas) yang tidak asing lagi bagi para siswa?

2. Apakah konsep-konsep dalam contoh dan latihan siswa disajikan dalam konteks guna dari konsep-konsep itu?

3. Apakah konsep-konsep baru disajikan dalam konteks apa yang telah diketahui siswa?

4. Apakah contoh-contoh dan latihan-latihan siswa meliputi banyak situasi pemecahan masalah yang nyata dan terpercaya, yang dapat dikenali siswa sebagai penting untuk kehidupan mereka saat ini atau kehidupan yang mungkin di masa depan?

5. Apakah contoh-contoh dan latihan-Iatihan siswa menanamkan sikap yang mengatakan, "Aku perlu mempelajari ini"?

6. Apakah para siswa mengumpulkan dan menganalisis data mereka sendiri ketika mereka dipandu dalam penemuan konsep-konsep penting?

7. Apakah kesempatan-kesempatan dihadirkan kepada para siswa untuk mengumpulkan dan menganalisis data mereka sendiri untuk pengayaan dan penugasan?

8. Apakah pertemuan pelajaran dan aktivitas-aktivitas mendorong siswa untuk menerapkan konsep-konsep dan informasi dalam konteks-konteks yang berguna. mengarahkan siswa ke masa depan yang dibayangkannya (misalnya, karier-karier yang mungkin) serta lokasi-lokasi yang masih asing baginya (misalnya, tempat kerja)?

9. Apakah para siswa diharapkan untuk rutin berpartisipasi dalam grup-grup interaktif di mana mereka berbagi, berkomunikasi, dan memberikan respon tentang konsep-konsep penting serta membuat keputusan?

10. Apakah pertemuan pelajaran, latihan, dan aktifitas laboratorium meningkatkan juga skill membaca dan skill-skill komunikasi lainnya dalam diri siswa selain dari penalaran dan pencapaian matematis?

Di dalam lingkungan seperti demikian, para siswa menemukan hubungan-hubungan yang bermakna di antara idea-idea abstrak dan aplikasi-aplikasi praktis dalam konteks dunia nyata; konsep-konsep diintemalisasi melalui proses menemukan, memperkuat, dan menghubungkan. Misalnya. sebuah kelas fisika yang sedang mempelajari konduktifitas panas dapat mengukur bagaimana kualitas dan kuantitas bahan tembok sebuah bangunan mempengaruhi energi yang dipenukan untuk memanaskan atau mendinginkan suhu udara di dalam bangunan itu. Atau sebuah kelas biologi atau kimia dapat mempelajari konsep-konsep sains dasar dengan mengkaji penyebaran AIDS atau bagainana para petani menyebabkan kerusakan lingkungan dan dirugikan oleh kerusakan lingkungan.


1. Teori yang Mendukung

Banyak teori yang berkaitan dengan pembelajaran matematika. Namun teori belajar yang relevan dengan pembelajaran dengan strategi REACT adalah teori belajar konstruktivisme. Menurut pandangan konstruktivisme, dalam pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk menggunakan strateginya sendiri, dalam belajar secara sadar, dan guru membimbing ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Siswa harus membangun sendiri informasi dan pengetahuan awal yang dimilikinya.

Clements&battista(2001) menyatakan bahwa prinsip-prinsip dasar pandangan konstuktivisme adalah sebgai berikut:

a. Pengetahuan dibentuk dan ditemukan oleh siswa secara aktif, tidak sekedar diterima secara pasif dari lingkungan. Ide ini dapat diilustrasikan bahwa ide-ide matematika dibentuk oleh siswa, tidak sekedar ditemukan sebagai barang jadi atau diterima dari orang lain sebagai hadiah.

b. Siswa mengkonstruk pengetahuan matematika dengan melakukan refleksi mental, yaitu berbuat dan berfikir.ide-ide dikonstruksikan secara bermakna dengan cara diintegrasikan ke dalam struktur pengetahuan yang telah ada.

c. Tidak ada realitas yang sebenarnya, siswa sendirilah yang membuat interpretasi mengenai dunia. Interpretasi ini dibentuk dengan pengalaman dan interaksi sosial. Jadi belajar matematika harus berupa proses bukan hasil.

d. Belajar adalah proses sosial. Ide-ide dan kebenaran matematika baik dalam penggunaan dan makananya ditetapkan secara bersama oleh anggota suatu kelompok masyarakat(budaya).

2. Strategi REACT

a. Pengertian strategi REACT

Pada dasarnya semua strategi yang searah dengan penciptaan Susana pembelajaran yang konteks merupakan elemen pembelajaran kontekstual. Ada lima strategi yang harus tampak yaitu (1) mengaitkan/menghubungkan (relating); (2) mengalami (experiencing); (3) menerapkan (applying); (4) strategi bekerjasama (cooperating); dan (5) mentransfer (transferring). Strategi tersebut disingkat dengan REACT yang terfokus pada pembelajaran konteks. Semua strategi tersebut harus digunakan selama proses pembelajaran.

1) Relating (mengaitkan/menghubungkan)

Relating (mengaitkan/menghubungkan) merupakan strategi pembelajaran kontekstual yang paling kuat, sekaligus inti konstruktivis(Crawford, 2011). Dalam pembelajaran siswa melihat dan memperhatikan keadaan lingkungan dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dikaitkan kedalam informasi baru atau persoalan yang akan dipecahkan. Jadi mengaitkan adalah belajar dalam konteks pengalaman kehidupan nyata seseorang atau pengetahuan yang ada sebelumnya.

Guru menggunakan strategi relating ketika siswa mengaitkan konsep bari dengan sesuatu yang benar-benar sudah tid k asing lagi bagi siswa,dengan mengaitkan apa yang telah diketahui oleh siswa dengan informasi yang baru. Dalam memulai pembelajaran, guru yang menggunakan strategi relating harus selalu mengawali dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab oleh hamper semua siswa dari pengalaman hidupnya diluar kelas (clawford, 2001).

Jadi pertanyaan yangdiajukan selalu dalam fenomena-fenomena yang menarik dan tidak asing lagi bagi siswa, bukan menyampaikan sesuatu yang abstrak atau fenomena yang berada diluar jangkauan persepsi, pemehaman dan pengetahuan para siswa.

Ada tiga sumber utama untuk mengetahui pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki oleh siswa sebelumnya(clawford, 2001) yaitu:

- Pengalaman, yaitu pengalaman guru sendiri dengan siswa yang memiliki latar belakang serupa atau dari pengalaman kolektif guru dan para koleganya.

- Peneliti, yaitu bukti yang didokumentasi tentang gagasan-gagasan yang dipegang siswa secara umum

- Penyelidikan, yaitu siuatu bentuk pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang dirancang secara cermat yang mengungkapkan pengetahuan dan keyakinan siswa

Relating (menurut CORD).

Belajar dalam konteks pengalaman hidup, atau menghubungkan, adalah jenis belajar kontekstual yang biasanya terjadi pada anak-anak kecil. Bagi mereka, sumber-sumber belajar telah tersedia dalam bentuk mainan, permainan, dan peristiwa sehari-hari seperti waktu makan, perjalanan ke pusat perbelanjaan, dan berjalan-jalan di lingkungan sekitar rumah.

Namun demikian, saat anak-anak tumbuh semakin besar, memberikan konteks yang sedemikian bermakna untuk belajar kepada mereka menjadi lebih sulit. Kita adalah suatu masyarakat di mana dunia kerja sangat terpisah dari kehidupan rumah tangga, di mana anggota-anggota dari keluarga besar terpisahkan jarak yang jauh, serta di mana para remaja tidak memiliki peran atau tanggung jawab kemasyarakatan yang jelas yang sesuai dengan kemampuan-kemampuan mereka.

Pada kondisi-kondlsi ideal, para guru sekedar mengarahkan para siswa dari satu aktilitas berbasis masyarakat ke satu aktifitas lainnya, mendorong mereka untuk menghubungkan apa yang sedang mereka pelajari dengan pengalaman kehidupan nyata. Namun demikian, pada sebagian besar kasus, sebagai akibat dari rentang dan kompleksitas konsep-konsep yang diajarkan dan keterbatasan sumber daya, pengalaman-pengalaman hidup akan harus dijabarkan melalui teks, video, ceramah, dan aktivitas ruang kelas.

Kurikulum yang berupaya menempatkan belajar dalam konteks pengalaman-pengalaman hidup hendaknya, terlebih dulu, menggugah perhatian siswa ke arah Pemandangan, peristiwa, dan kondisi keseharian.Kurikulum itu hendaknya kemudian Menghubungkan situasi-situasi keseharian pada informasi baru yang akan diserap atau permasalahan yang akan dipecahkan.

2) Experiencing (mengalami)

Dalam mempelajari suatu konsep, siswa mempunyai pengalaman terutama langkah-langkah dalam mempelajari konsep tersebut. Hal ini bisa diperoleh pada saat siswa mengerjakan LKS, latihan penugasan, dan kegiatan lain yang melibatkan keaktifan siswa dalam belajar. Sehingga dengan mengalami siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep.

Relating dan experiencing merupakan dua strategi untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari berbagai konsep baru. Tetapi guru harus tau kapan dan bagaimana caranya mengintegrasikan strateg i-srategi dalam pembelajaran dan hal tersebut tidaklah sederhana (clawford, 2001).disini guru memerlukan ketelitian, kolaborasi, cermat dlam menyajikan materi-materi pembelajaran yang sangat tepat untuk mengetahui kapan saatnya mengaktifkan pengelaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, sehingga dapat membantu menyusun pengetahuan baru bagi siswa.

Experiencing (Menurut CORD).

Mengalami-belajar dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan penciptaan-penciptaan merupakan jantung dari belajar kontekstual. Betapapun para siswa menjadi termotivasi atau terlibatkan sebagai hasil dari strategi-strategi pembelajaran lainnya seperti video, naratif, atau aktifitas-aktifitas berbasis teks, semua itu relatif masih merupakan bentuk-bentuk belajar yang pasif. Dan belajar tampak "terjadi" jauh lebih cepat bila para siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian aktif lainnya.

Pada teks-teks keilmuan akademik yang kontekstual, laboratorium seringkali didasarkan pada tugas-tugas dunia kerja yang sebenarnya. Tujuannya bukanlah melatih para siswa untuk pekerjaan tertentu, tetapi untuk memberi mereka kesempatan untuk mengalami aktifitas-aktifitas yang langsung berkaitan dengan kerja dunia nyata. Banyak dari aktifitas dan skill yang dipilih untuk laboratorium bersifat lintas-pekerjaan; maksudnya, yang digunakan dalam spektrum luas dari pekerjaan-pekerjaan.

3) Applying (menerapkan)

Pembelajaran yang dilakukan dengan menerapkan adalah belajar ubtuk menerapkan konsep-konsep ketika melaksanakan aktivitas pemecahan soal-soal, baik melalui LKS, latihan penugasan, maupun kegiatan lain yang melibatkan keaktifan siswa dalam belajar.

Untuk lebih memotivasi dalam memahami konsep-konsep, guru dapat memberikan latihan-latihan yang realistik, relevan, dan menunjukkan manfaat dalam suatu bidang kehidupan. Agar proses pembelajaran dapat menunjukkan motivasi siswa dalam mempelajari konsep-konsep serta pemahaman yang lebih mendalam, Crawford (2001) merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

- Fokuskan pada aspek-aspek aktivitas pembelajaran yang bermakna

- Rancanglah tugas-tugas untuk sesuatu yang baru, variasi keragaman dan menarik

- Rancanglah tugas-tugas yang menantang tetapi masuk akal dalam kaitannya dengan kemampuan siswa.

Applying (Menurut CORD).

Menerapkan konsep-korsep dan informasi dalam konteks yang berguna seringkali mengarahkan siswa ke suatu sosok masa depan yang dibayangkannya (sebuah karier yang mungkin) dan/atau ke suatu lokasi yang masih asing baginya (tempat kerja). Di dalam mata pelajaran-mata pelajaran belajar kontekstual, aplikasi-aplikasi seringkali didasarkan pada aktifitas-aktifitas dunia kerja.

Seperti dikemukakan lebih awal, para remaja masa kini pada umumnya memiliki akses yang terbatas ke dunia kerja; tidak seperti generasi-generasi sebelumnya, mereka tidak melihat padanan zaman modem dari pandai besi di tempat penempatan atau petani-petani di ladang pada masa lalu. Secara mendasar terisolasi di permukiman kota atau di daerah pinggiran, banyak siswa memiliki pengetahuan lebih banyak tentang bagaimana caranya menjadi seorang bintang musik rock atau model daripada tentang bagaimana caranya menjadi seorang dokter pemafasan atau operator pembangkit daya. Jika mereka dikehendaki memperoleh pemahaman koneksi yang realistik di antara persekolahan dan pekerjaan-pekerjaan di kehidupan nyata, maka konteks dunia kerja hendaknya dihadirkan kepada mereka. Ini terjadi paling lazim melalui teks, video, laboratorium, dan aktifitas, meski, di banyak sekolah, pengalaman-pengalaman belajar kontekstual tersebut akan diikuti dengan pengalaman langsung seperti studi wisata ke sebuah pabrik atau semacamya, penyelengaraan mentoring, dan jalinan keikutsertaan kerja di lapangan.

4) Cooperating (bekerja sama)

Belajar dengan bekerjasama, saling tukar pendapat (sharing), merespon, dan berkomunikasi dengan pembelajar lainnya akan sangat membantu siswa dalam mempelajari suatu konsep. Hal ini sesuai dengan pendapat slavim(1995) yang member pengertian bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbang pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar. secara individu maupun kelompok.

Untuk menghindari adanya siswa yng idak berpartisipasi dalam aktivitas kelompok, menolak atau menerima tanggung jawab atas pekerjaan kelompok, kelompok mungkin terlalu tergantung pada bimbingan guru, atau kelompok dapat terlihat dalam konflik. Oleh karena itu Johnson (dalam Crawford, 2001) memberikan beberapa petunjuk untuk menghindari berbagai kondisi negative dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep yang lebih mendalam. Adapun petunjuk tersebut:

- Menyusun kesalingtergantungan positif dalam kelompok belajar siswa.

Kesalingtergantungan positif berarti bahwa masing-masing siswa merasa bahwa dia tidak dapat sukses jika para anggota kelompok semuanya tidak sukses. Dengan demikian siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok dan juga mempunyai andil suksesnya kelompok.

- Meminta siswa berinteraksi dalam menyelesaikan tugas-tugas dan memastikan bahwa interaksi-interaksi tersebut berkaitan dengan tugas.interaksi mencakup pemberian bantuan dan dorongan dari siswa ke siswa, penjelasan gagasan-gagasan dan berbagai strategi pemecahan soal, dan pembahasan terhadap gagasan-gagasan lain yang berkaitan dengan tugas.

- Memastikan semua kelompok belajar membahas seberapa efektif kelompok berfungsi.

Cooperating (Menurut CORD).

Bekerja sama-belajar dalam konteks berbagi, merespon, dan berkomunikasi dengan pelajar-pelajar lain adalah sebuah strategi pembelajaran utama dalam pembelajaran kontekstual. Pengalaman bekerja sama tidak saja membantu mayoritas siswa mempelajari materi, tetapi pengalaman seperti itu juga sejalan dengan fokus dunia nyata dari pembelajaran kontekstual.

Wawancara penelitian bersama para pengusaha mengungkap bahwa pekerja-pekerja yang dapat berkomunikasi secara efektif, yang dapat berbagi informasi secara bebas, dan yang dapat bekerja dengan nyaman dalam sebuah latar tim sangatlah dihargai di lapangan kerja. Dengan demikian, kita memiliki cukup alasan untuk mendorong para siswa membangun skill-skill kooperatif ini saat mereka masih di ruang kelas.

Metode laboratorium, salah satu metode pembelajaran utama dalam akademika terapan, pada dasarnya bersilat kooperatif. Lazimnya, para siswa bekerja secara berpasangan untuk melakukan latihan Laboratorium; pada beberapa kasus, mereka bekerja dalam kelompok tiga atau empat orang. Menuntaskan kerja laboratorium secara berhasil menuntutkan delegasi, observasi, saran, dan diskusi. Di banyak laboratorium kualitas data yang dikumpulkan oleh sebuah tim sebagai kesatuan tergantung pada kinerja individual dari tiap anggota tim.

Para siswa juga harus bekerja sama untuk menyelesaikan banyak aktifitas kelompok kecil yang tercakup di dalam mata pelajaran-mata pelajaran akademik terapan. Bekerja secara berpasangan (partnering) dapat menjadi sebuah strategi yang efektif untuk mendorong para siswa bekerja sama.

5) Transferring (mentransfer)

Pembelajar sebagai pengguna pengetahuan dalam konteks baru atau situasi baru. Pembelajaran diarahkan untuk menganalisis dan memecahkan suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dengan menrapkan pengetahuan yang telah dimilikinya.

Selain hal di atas, guru tampaknya memiliki kemampuan alamiah untuk memperkenalkan gagasan-gagasan baru yang dapat memberikan motivasi terhadap siswa secara intrinsic dengan memancing rasa penasaran atau emosi. Oleh karena itu, guru secara selektif menggunakan latihan-latihan untuk memancing rasa penasaran dan emosi sebagai motivator dalam mentransfer gagasan-gagasan matematika dari satu konteks ke konteks lain. Dengan demikian rasa bermakna yang timbul dalam pembelajaran dengan strategi ini dapat melibatkan emosi siswa.

Transfering (Menurut CORD).

Belajar dalam konteks pengetahuan yang telah ada, atau mentransfer, menggunakan dan membangun pada apa yang telah diketahui siswa. Metode semacam ini serupa dengan relating, dalam hal bahwa metode ini melibatkan apa yang telah akrab bagi siswa.

Sebagai orang dewasa, banyak dari kita pandai menghidari situasi-situasi yang asing-bagian kota yang kita tidak ketahui, makanan aneh yang tidak pernah kita makan, toko yang tidak pernah kita kunjungi, dan sebagainya. Kadang-kadang kita pun menghindari situasi-situasi di mana kita harus mendapatkan informasi baru atau membangun skill baru (terutama jika kemungkinan terdapat orang-orang menyaksikan) memanfaatkan sebuah jenis perangkat lunak computer yang baru atau berurusan disebuah Negara lain dengan skill bahasa asing kita yang belum memadai.

Namun demikian, kebanyakan siswa di sekolah menengah yang menerapkan pembelajaran tradisional jarang memiliki kesempatan untuk menghindari situasi-situasi belajar yang baru; mereka dihadapkan pada situasi-situasi demikian setiap hari. Kita dapat membantu mereka mempertahankan rasa harga diri dan membangun kepercayaan diri jika kita mengupayakan pembangunan pengalaman-pengalaman belajar baru pada apa yang telah mereka ketahui.

b. Kelebihan dan kelemahan strategi REACT

1) Kelebihan strategi REACT

a) Memperdalam pemahaman siswa

Dalam pembelajaran siswa bukan hanya menerima informasi yang disampaikan oleh guru, melainkan melakukan aktivitas mengerjakan LKS sehingga bisa mengaitkan dan mengalami sendiri prosesnya.

b) Mengembangkan sikap menghargai diri siswa dan orang lain

Karena dalam pembelajaran, siswa bekerjasama, melakukan aktivitas dan menemukan rumusnya sendiri, maka siswa memiliki rasa menghargai diri atau percaya diri sekaligus menghargai orang lain

c) Mengembangkan sikap kebersamaan dan rasa saling memiliki

Belajar dengan bekerja sama akan melahirkan komunikasi sesama siswa dalam aktivitas dan tanggung jawab, sehingga dapat menciptakan sikap kebersamaan dan rasa memiliki

d) Mengembangkan keterampilan untuk masa depan

Belajar dengan mengalami dituntut suatu keterampilam dari siswa untuk memanipulasi benda konkrit. Kegiatan tersebut merupakan bekal untuk mengembangkan keterampilan masa depan.

e) Membentuk sikap mencintai lingkungan

Pembelajaran dengan memperhatikan keadaan lingkungan dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, dikaitkan dengan informasi baru. Oleh karena itu, siswa dengan sendirinya membentuk sikap mencintai lingkungannya.

f) Membuat belajar secara inklusif

Pembelajaran yang dilaksanakan secara menyeluruh, sempurna dan menyenangkan

2) Kelemahan strategi REACT

a) Membutuhkan waktu yang lama untuk siswa

Pembelajaran dengan strategi REACT membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dalam melakukan aktivitas belajar, sehingga sulit mencapai target kurikulum. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pengaturan waktu selektif mungkin.

b) Membutuhkan waktu yang lama untuk guru

Pembelajaran dengan strategi REACT membutuhkan waktu yang cukup lama bagi guru dalam melakukan aktivitas belajar, sehingga kebanyakan guru tidak mau melakukannya

c) Membutuhkan kemampuan khusus guru

Kemampuan guru yang paling dibutuhlan adalah adanya keinginan untuk melakukan kreatif, inovatif dan komunikasi dalam pembelajaran sehingga tidak semua guru dapat melakukan atau menggunakan strategi ini.

d) Menuntut sifat tertentu dari guru

Pembelajaran dengan strategi REACT tidaklah mudah, memerlukan persiapan tambahan dan menuntut kerja keras serta bekerja sama dengan guru lain dalam menghadapi kendala. Hal ini juga menyebabkan guru harus rela bekerja keras.

0 comments:

Poskan Komentar

terima kasih telah mengunjungi blog saya
mohon sarannya